Minimnya Lagu bertemakan sosial di Indonesia?
Jika kita mengamati acara – acara musik di televisi, ada puluhan band baru yang perform tiap bulannya. Hal itu seharusnya menjadi kabar baik bagi industri musik di tanah air, namun anehnya mereka ( para band2 jaman sekarang ) seakan tidak punya ciri khas yang dapat membedakan satu band dengan band yang lainya. Mereka secara kompak menyanyikan lagu - lagu melankolis dengan lirik – lirik yang berkutat seputar : patah hati, perselingkuhan, dan cinta mati.
Fenomena tersebut bukan semata- mata terjadi karena menjamurnya band – band melankolis di Indonesia,namun lebih kepada selera pasar yang memang menginginkan jenis musik seperti itu. Mungkin sebagian kecil masyarakat Indonesia tidak habis pikir ( termasuk saya sendiri yang jenuh mengikuti perkembangan musik tanah air sekarang ) dan sering kali muncul pertanyaan: Band ini – band itu lagunya semuanya samaaa aja...., tapi kok masih ada aja yang suka??? Ckckkk....., Apakah sudah tidak ada band –band yang mengusung pembaruan dan membawakan tema- tema patriotis, sindiran2 sosial, dan menyuguhkan lirik-lirik berbobot yang penuh motivasi?
Tentu kita ingat dengan musisi kawakan Iwan Fals, godbless, Ebiet G Ade,.... yang begitu malang melintang di era 80 an..... Survei membuktikan bahwa lagu- lagu yang menjadi legend adalah lagu – lagu yang bertemakan sosial, relijius, dan penuh motivasi. Bento, Bongkar, Pesawat tempurku, Manusia ½ dewa ( Iwan Fals ), Rumah kita, Panggung sandiwara, semut hitam ( Godbless), berita kepada kawan ( Ebiet G ade) merupakan lagu – lagu yang tak akan pernah lenyap termakan usia.
Masih mungkinkah di era sekarang ini lagu-lagu bertemakan sosial laku keras di pasaran? Susah.., Itu mungkin jawaban yang paling realistis. Sebenarnya ada beberapa musisi yang sudah berusaha menjunjung tinggi idealismenya untuk menyuarakan pesan – pesan sosial..., seperti Bondan prakoso ( Ekspresi , hidup berawal dari mimpi) Saykoji ( hip-hop ku, sorry), Pas Band ( aku ), dan Nugie ( lentera jiwa ), namun popolaritas lagu – lagu tersebut kalah jauh dibanding lagu – lagu cinta instan khas band2 jaman sekarang. Belum lagi para musisi – musisi jalanan dengan gaya gembelnya yang mengusung aliran Punk, Reggae, dan ska, yang masih dilihat sebelah mata ( bahkan di cap negatif ) di mata masyarakat awam, yang sebenarnya justru mereka JAUH LEBIH PUNYA KUALITAS dibanding band2 melow yang ada sekarang ini.
Pada Akhirnya ada sebuah pertanyaan besar, Melihat fenomena di atas apakah Indusri musik di tanah air mengalami kemajuan atau kemunduran????


