Halaman


All Story From Blog

Potensi Pariwisata di Indonesia

Beberapa menit yang lalu saya baru saja selesai menyaksikan sebuah acara yang menarik berjudul “Hidden Cities: Indonesia”

Cerita tersebut berawal dari kekaguman seorang wartawan asing (that I forget what is his name, hehe….) terhadap sejarah Indonesia. Sang wartawan kemudian datang kemari dan mencoba mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Indonesia.

Tempat –tempat yang ia kunjungi antara lain: Lawang sewu, benteng pendem, kerajaan Islam kuno , dan beberapa candi di Jogja dan Jawa Tengah.

Beliau tampak terkagum-kagum saat mengetahui cerita di balik bangunan-bangunan kuno di Indonesia. Saat di lawang sewu misalnya dia sama sekali tidak menyangka sebuah bangunan yang tampak begitu megah yang menjadi gedung pusat perekonomian pada jaman belanda, beralih fungsi menjadi tempat penyiksaan warga pribumi pada jaman jepang.

Namun ironisnya pada setiap kunjungan ke tempat2 bersejarah itu beliau SELALU berucap “sayang sekali tempat ini tampak kurang terawat”.

Kata-kata itu mungkin kedengaran sangat klasik di telinga kita, namun anehnya pemerintah dengan slogan “visit Indonesia year nya” terkesan acuh tak acuh melihat fakta tersebut.

Sebagai warga Jogja saya menyadari, di propinsi DIY saja sudah sangat banyak potensi pariwisata yang tak terawat dan bahkan belum terjamah. Sebut saja pantai di sekitaran Gunung kidul, pantai disekitaran Bantul yang menurut saya keindahanya tidak kalah dengan pantai2 di Bali, Gua-gua di Gunung kidul yang sangat menantang bagi pecinta olahraga caving, belum lagi situs – situs candi bersejarah di daerah Sleman.


Satu pertanyaan besar saya adalah “APA SAJA PROGRAM-PROGRAM PEMERINTAH DAN APA YANG TELAH MEREKA LAKUKAN SECARA KONGKRIT UNTUK MENGEKSPLOR POTENSI BESAR PARIWISATA DI INDONESIA??

Saya berandai-andai jika saja semua obyek pariwisata tersebut terkelola (baik akses tranportasi, penginapan, kebersihan, dan pemasaran nya), pastilah akan sangat berdampak positif bagi perekonomian penduduk sekitar. Itu baru di DIY belum lagi di provinsi-provinsi lain seperti papua, nusa tenggara dan di 17000 pulau yang dimiliki Indonesia.

If only all of that into reality…..WHOOAA, What a wonderful country I’m living in……(^_^)V

Continue Reading »


Regulasi Vs Skill Pemain


“Football is not only about scoring to the enemy goal ,but also about business, hooliganism, celebration, injury, controversy, and dangerous foul.”

Mungkin salah satu yang mencirikan sepak bola di Indonesia adalah dangerous foul (mungkin lebih tepat jika diartikan “pelanggaran ngawur”). Lantas apa yang membedakan pelanggaran2 di liga2 eropa dengan di ligan Indonesia??...... Jika kita lihat sekilas pastilah kita

beranggapan bahwa liga Indonesia adalah liga yang sangat keras mungkin ada yang mengatakan liga terkeras dengan pelanggaran2 berbahaya, namun jika kita cermati lebih mendalam sesunggguhnya pelanggaran2 di liga2 top eropa lah yang jauh lebih keras. Ini terbukti dari bayaknya pemain yang cedera dan seberapa parah cedera tersebut.

Satu hal yang membuat liga Indonesia dijuluki sebagai liga yang keras ADALAH INTENSITAS PELANGGARAN YANG TINGGI TANPA PUNISHMENT DARI WASIT. Berbeda di liga2 eropa dimana wasit cenderung tegas untuk mengadili pemain yang sengaja mencederai lawan. Berbeda halnya di Negara kita tercinta ini , yang seakan akan wasit acap kali membiarkan pelanggaran2 yang terjadi. So the big question is APAKAH PARA WASIT DI INDONESIA BENAR-BENAR MENGERTI MASALAH REGULASI PELANGGARAN DALAM SEPAK BOLA ATAU TIDAK…., ATAU JANGAN2 INI ADALAH INSTRUKSI LANGSUNG DARI PSSI DALAM MELONGGARAKAN REGULASI TERSEBUT UNTUK MENAMBAH NILAI JUAL LIGA INDONESIA???? Hmmm……

“alah cuman di tekel engkel-nya dari belakang saja kok, yaa peringatan saja…, gak usah dikasih kartu kuning”….., alah cuman ketendang paha-nya saja kok di kasih peringatan cukup, lagian dia kan juga nggak sengaja”…WTF!!!!!!

Sering sekali saya menyaksikan pelanggaran2 yang sejatinya diberikan kartu kuning bahkan katu merah di liga-liga eropa hanya diberikan peringatan saja di liga Indonesia ( mungkin karena terlalu sering kali yeee….., sehingga pelanggaran dianggap hal biasa). Memang dengan adanya pelanggaran-pelanggaran keras akan menambah decak kagum sorak sorai penonton ( bhs jawanya: men tambah gayeng ), namun tanpa disadari kelonggaran regulasi tersebut akan mempunyai dampak psikologis yang berakibat pada terhambatnya perkembangan skill pemain, mengapa demikian??

Jawabanya simpel, sepemberani apapun, segarang-garang apapun sang pemain lambat laun pasti akan merasa “keder” jika tiap saat dia menerima bola selalu di “tekel”( dilanggar ). Saat sang pemain mulai merasa was-was daam kondisi seperti itu, mindset mereka adalah setiap mererima bola dan lalu didekati lawan dia harus dengan cepat mengoper bola entah bagaimana caranya. Mungkin inilah salah satu yang menyebabkan ball possession / total football sangat jarang sekali dilakukan klub- klub liga Indonesia. Pemain yang notabene memiliki teknik dan driblle yang bagus pada akhirnya tidak dapat mengeksplor skill mereka dilapangan. Hal terburuk adalah jika kondisi semacam ini sudah menjadi budaya sehingga permainan di level tim nasional pun akan terpengaruh iklim kompetisi local, yang akibatnya kita sudah tau semua lah bagaimana buruknya koordinasi ball possession timnas kita.

This is just my opinion, so I hope PSSI consider my critic and make the regulation more clear, especially about protecting players from many foul that can make their skill hampered.

Continue Reading »