Nasionalisme Simbolik
Nasionalisme berasal dari kata “nation” yang berarti Bangsa, menurut Hans Koln, Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sedangkan menurut Ensiklopedi nasional Indonesia, Nasionalisme berarti paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atau kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan.
Bagaimana Dengan nasionalisme di Indonesia???
Ya, Masyarakat Indonesia memilki jiwa nasionalisme yang sangat besar, pernyataan seperti itu acap kali terdengar ketika seorang wartawan mewawancarai seorang supporter olahraga setelah mereka keluar dari stadion/ gedung olahraga.
Bayangkan saja, beratus-ratus ribu supporter rela mengantri membeli tiket saat pertandingan AFF 2010, mereka rela mengantri berpanas-panas, berjam-jam, bahkan sampai berhari-hari hanya untuk mendapatkan selembar tiket masuk ke stadion. Bukankan itu luar biasa?
Saya sempat merinding ketika menyaksikan pertandingan Jeonbuk Hyunday motor melawan Arema Indonesia di Jeonju World Cup Stadium, South Korea. Ketika Arema Indonesia dibantai dengan ½ lusin Gol tanpa balas, saya dengan jelas mendengar teriakan-teriakan heroik dari Aremania di stadion tersebut. Mereka tanpa surut menyanyikan yel-yel khas Aremania. Jumlah mereka mungkin tak seberapa jika dibandingkan dengan supporter Jeonbuk Hyunday motor, namun nyayian mereka dengan jelas terndengar di telingaku.
Istilah Nasionalisme simbolik saya kutip dari buku “selamatkan Indonesia” karangan Prof.Dr. Amien Rais, MA. Beliau menggambarkan Nasioanlisme di Indonesia hanya sebatas nasionaisme semu, Nasionalisme yang kasat mata. Beliau menganalogikan dengan sebuah rumah megah yang terletak di pinggir jalan raya, dengan pagar yang menjulang tinggi, dengan ukiran-ukiran artistic. Rumah tersebut besar, dengan taman-taman yang hijau menyejukkan mata. Namun jika kita masuk ke dalam rumah tersebut, segala keindahan dan kemegahan tersebut seakan sirna.dinding-dinding rumah mengelupas, lantai-lantai berlumut tak terurus, dengan perabotan-perabotan yang telah usang.
Begitulah kiranya nasionalisme di Indonesia. Sebuah Negara yang sangat dimanjakan oleh Tuhan. Sebuah tanah surga yang bahkan jika kayu dilempar pun akan berubah jadi tanaman.(kata Koes Plus, hehe). Namun berapa jumlah ‘open employment” di Indonesia, berapa hutang-hutang Indonesia, berapa jumlah penduduk miskin Indonesia, dan yang paling meyakitkan Negara kita masih dijajah secara ekonomi oleh Negara-negara asing.

0 komentar:
Posting Komentar