Halaman


All Story From Blog

Review Perjalanan umroh, (Madinah, Part II)

Masjid Nabawi / Masjid Nabi, Sebuah masjid suci kedua bagi umat islam, disebut masjid Nabawi karena pada zaman dahulu Rasulullah sering menamakan masjid Nabawi dengan kata “masjidku”.

Kesempatan mengunjungi masjid Nabawi tidak aku sia-siakan, disamping pahala shalat di masjid Nabawi 1000 kali lebih utama daripada shalat di masjid lain, di dalam masjid Nabawi juga terdapat suatu tempat bernama Ar-raudhah. Rasulullah bersabda “ Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga”, itulah tempat yang disebut Ar-raudhah. Ar-raudhah adalah salah satu tempat yang mustajab untuk berdo’a, Cara membedakan Ar-raudhah sangat mudah Ar-raudhah terletak di ujung masjid dan memiliki warna karpet yang berbeda dengan tempat lainya (biasanya berwarna ungu keabu-abuan, sedang tempat lain berwarna merah.). Alhamdulillah meski berdesak-sesakan aku sempat shalat 2 rakaat dan berdo’a di Ar-raudhah.

Setelah shalat dan berdo’a di Ar-raudhah saya berjalan menuju pintu keluar masjid. Tepat sebelum pintu keluar masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah S.A.W , makam Saidina Abu Bakar As-Siddiq, dan makam Umar bin Khattab. Di makam tersebut para jamaah tidak diperbolehkan masuk, sehingga hanya bisa melihat dari kejauhan.

Continue Reading »


Teknologi Dalam Sepak Bola

Mungkin teman-teman semua pernah melihat gol “tangan Tuhan”, Diego Armando Maradona, gol “tangan Tuhan” Lionel Messi, Gol Geoff Hurst pada piala dunia 1966, dan Gol “hands ball, Thiery henry pada kualifikasi piala dunia 2010 melawan Irlandia. Apa yang ada di benak teman –teman semua…??? Jengkel kah??..., atau bahkan senang karena tim idolanya diuntungkan oleh gol Kontroversial.

Pada piala dunia 2010 ini kembali ramai diperbincangkan isu mengenai penggunaaan alat bantu teknologi dalam pengambilan keputusan suatu pertandingan sepak bola. Berawal deari gol Luis Fabiano saat Brazil bertemu Pantai Gading yang berbau “hands ball”, kemudian gol Frank Lampard saat Inggris dikalahkan Jerman yang tidak disahkan wasit karena bola dianggap belum melewati garis gawang , dan gol Carlos Tevez yang jelas-jelas dalam posisi “off-side” saat Agentina berhadapan dengan Meksiko. Sebenarnya isu ini sudah sangat lama menjadi wacana / bahan perdebatan. Sebelum perhelatan piala 2010 ini FIFA sudah membahas masalah penggunaan alat bantu teknologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam sepak bola , namun untuk yang kesekian kalinya pada musyawarah tersebut FIFA kembali menolak usulan diatas. Guus Hiddink (Tokoh sepak bola Belanda / Pelatih timnas Russia) bahkan menyarankan agar presiden FIFA (Sepp Blater) untuk segera mengundurkan diri karena dinilai tidak becus membawa perubahan sepak bola dunia kearah yang lebih maju dan modern. Bukan hanya Guss Hiddink saja yang melakukan kritik terhadap FIFA, Howard Webb (salah satu wasit terbaik Inggris) pun ikut –ikutan melontarkan sindiranya : "Saya terbuka untuk segalanya yang akan membuat kami semakin dipercaya. Alat apa pun yang saya punya akan saya gunakan untuk mendukung kinerja saya,", ” tanpa teknologi, kasus serupa akan terulang dan wasit akan terus terancam.”, tambahnya tepat seusai menyaksikan negaranya dikalahkan Jerman 1-4.

Dalam setiap isu yang diperdebatkan pastilah banyak yang Pro dan yang Kontra. Aku sendiri sebagai penikmat sepak bola lebih memilih KONTRA terhadap wacana penggunaan alat bantu teknologi dalam sepak bola. Mengapa?......, karena saat ini sepak bola bukanlah sekedar “olah raga” yang mengedepankan otot, skill, dan kreatifitas, lebih dari itu sepak bola adalah sebuah drama yang melibatkan emosional dan faktor psikologis setiap orang yang terlibat, yang sangat memungkinakan terjadi kesalahan di dalamnya. Dengan penggunaan teknologi yang dominan mungkin kita tidak akan menjumpai lagi gol-gol kontroversial seperti diatas. Sepak bola hanya akan menjadi sebuah olah raga yang statis dan monoton. Dalam sebuah drama pasti ada pihak yang diperlakukan tidak adil. Biarlah gol-gol tersebut menjadi sebuah legenda yang akan terus dikenang hingga anak-cucu kita. ( FOOTBALL FOR HOPE , Make a better Future……)

Continue Reading »


Review Perjalanan umroh, (Madinah, Part I)


Setelah menempuh perjalan panjang yang sangat melelahkan Jakarta-Jeddah ( > 8 jam ) perjalanan kami belumlah usai, kami masih harus lanjut lagi perjalanan darat Jeddah-Madinah yang memakan waktu kira-kira 4-5 jam. Namun lamanya perjalanan ini tidaklah terlalu terasa karena sepanjang perjalanan ustad kami (Ustd.Rohmato), tdk pernah berhenti bercerita tentang sejarah kota Madinah dan keistimewaan kota Madinah
Madinah Al-Munawwarah (atau dahulu dikenal dengan nama Yatsrib) adalah kota suci Islam kedua setelah Mekkah Al-Mukarromah.Disebut kota suci karena Rasulullah pernah hijrah ke kota ini dan melakukan dakwah kurang lebih 10 tahun hingga Beliau wafat. Pada masa Rasulullah S.A.W, Madinah juga dikenal sebagai basis Islam yang sangat kuat sehingga para musuh-musuh Nabi kewalahan jika ingin menguasai kota Madinah. Berkat segala keistimewaan kota Madinah, Allah menjajikan bahwa kelak di akhir zaman Madinah (dan Mekkah) akan terbebas dari tipu mushilat “DajjaL” (Hanya 2 kota itu di dunia). Akhirnya tepat pukul 01.30, dini hari kami beserta rombongan tiba di Madinah dan langsung Check-in di hotel.
Hotel yang kami tempati bernama hotel at-Taiba,sebuah hotel bintang 4 yang hanya berjarak 30an meter dari masjid Nabawi. Sesampainya di hotel kami langsung tidur sejenak untuk melepas lelah. Pukul 03.30, Adzan Shubuh di masjid Nabawi berkumandang keras. Kami bersama jamaah lain lalu berbondong-bondong menunaikan sholat Shubuh.
Dengan berjalan sempoyongan aku bergegas pergi ke masjid. Tak lama kemudian aku sampai di depan gerbang Masjid Nabawi. Subhanallah…, seketika itu aku takjub dengan “kemegahan” dan “atmosfir” masjid Nabawi (Sebuah masjid suci kedua setelah Masjidil Harom), Masjid seluas 98 ribu m2 ini bersinar dengan terangnya, dengan ribuan lampu yang menyala, seakan-akan pada dini hari yang gelap itu tampak seperti siang hari. Puluhan ribu (bahkan mungkin ratusan ribu) umat muslim dari seluruh penjuru dunia beramai-ramai berdesak-desakan untuk menunaikan sholat shubuh di masjid Nabawi (pahala 1 x sholat di Masjid Nabawi = 1000 x pahala sholat di masjid lain, kecuali masjidil harom dan masjidil Aqso). Karena aku agak terlambat berangkat ke masjid sehingga aku mendapatkan shaf paling belakang dekat pintu keluar.
Sepulang sholat shubuh di masjid kami sekeluarga sarapan di restoran hotel .pukul 09.00, kami bersama jamaah Nur Ramadhan ( Nur Ramadhan = nama agen travel kami ) dengan bimbingan Ustad Rohmanto, Ustad Joko, dan Ustad Wanuri melaksanakan agenda pertama yaitu orientasi masjid Nabawi.

Continue Reading »