ASEAN FOOTBALL FEDERATION (AFF) 2010

Boleh dibilang sejak AFF pertama kali di gelar tahun1996 (waktu itu bernama piala tiger) AFF 2010 ini yang paling banyak menyita perhatian (khususnya di Indonesia). Performa Indonesia yang lumayan bagus (Lumayan bagus: karena penulis berpendapat timnas AFF 2004 masih yang terbaik) mungkin menjadi salah satu pemicunya ditambah dengan hadirnya 2 pemain “naturalisasi” dan ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah babak penyisihan.
Dahaga Rakyat akan kemenangan Indonesia seakan terbayar oleh kemenangan telak 5-1 atas Malaysia. Euforia berlanjut ketika timnas melibas Laos tanpa ampun 6-0 dan diluar dugaan berhasil mengalahkan tim terkuat ASEAN Thailand 2-1. Namun euforia berlebihan tersebut tanpa disadari akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari
1. Kisruh Penjualan Tiket
Siapa yang salah??...., tidak mungkin donk kita menyalahkan PERBASI. Tentu kesalahan mengerucut pada panpel dan PSSI. Aku berpendapat PSSI terlalu pelit dalam menggelontorkan dana. PSSI menyewa ribuan aparat pada saat pertandingan (walaupun itu sudah merupakan kewajiban yg di sayaratkan FIFA ) namun tidak menyewa aparat dalam jumlah besar saat penjulan tiket (yang merupakan “sunnah” karena tidak diwajibkan FIFA ). Keadaan makin parah saat diberlakukanya sistem “kupon antre”. Dalam sebuah wawancara, salah satu supporter timnas berkata “PSSI membagikan tiket seperti memberi pakan ayam.”
2. Melambungnya Harga Tiket Semifinal dan Final
Wajar kali, jika harga tiket semakin naik ketika level pertandingan naik (dari penyisihan – semifinal – final). Pada saat babak penyisihan harga tiket termurah adalah Rp.50.000, dan kelas VIP termahal adalah Rp.225.000. Memasuki babak semifinal tiket termurah tetap Rp.50.000 dan termahal naik 2 kali lipat yaitu Rp.550.000. Sedangkan harga tiket pada final 29 Desember, yang termurah menjadi Rp.75.000 dan yang termahal NAIK menjadi Rp.1000.000.
Tidak salah memang, jika dilihat dari hukum “demand dan supply”. Namun apakah kenaikan harus sesignifikan itu? (khususnya untuk yg VIP). Tidakkah hukum “hati nurani” sedikit dipertimbangkan dalam menentukan harga tiket. Mengingat para supporter rela antre berpanas-panas, berhujan hujan hanya untuk mendukung timnas Indonesia.
Dalam sebuah wawancara di TVon* (jauh sebelum perdebatan ttg naiknya harga tiket) , Bpk.Nurdin Halid + berkata: “ PSSI tidak mendapat sepeser rupiah pun dari pihak sponsor, penerimaan PSSI hanya dari penjualan tiket.”
So, the conclusion is…..??
3. Pubikasi Media yang Berlebihan
Akhir-akhir ini hampir setiap aku iseng-iseng menyalakan TV, pasti….PASTI, pemberitaan tentang timnas, dari mulai acara berita hingga infotainment. Publikasi yang berlebihan tsb, memberikan dampak positif bagi antusiasme rakyat untuk mengikuti / menyaksikan secara lansung timnas Indonesia berlaga. Dampak positif dr publikasi tsb, juga dirasakan para penjual kaos ataupun pernak-pernik timnas yang ikut meroket omzetnya dalam 1 bulan terakhir ini.
Namun bagai 2 sisi mata uang, publikasi yang lebay tersebut telah BANYAK membawa dampak negatif bagi masyarakat luas dan pemain timnas. Bagi masyarakat luas, publikasi tersebut telah membuat ekspektasi publik yang terlalu tinggi pada timnas. Timnas yang sekarang seakan-akan merupakan tim super power yang sudah pasti 100% bakal juara di ASEAN. (Padahal pendapat saya,timnas kali ini tdk terlalu special…., hanya bermain modal ngotot doank). Mohon Maaaf beribu-ribu Maaf, jika saya berpendapat pemberitaan media yang terlalu melebih-lebihkan skill Okto Maniani, padahal bakat Okto belum ada apa-apanya jika dibandinkan dengan bakat Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas diwaktu muda, apalagi jika dibandingkan dengan bakat Boaz , masih jauh ( maaf skali lagi maaf, it’s just my opinion, agar publik tdk berekspektasi berlebih ).
Dampak bagi pemain timnas jelas, publikasi berlebih tsb menjadi beban atao malah pemain timnas over PD sehingga tdk konsen menghadapi pertandingan. Dampak lain adalah secara tidak lansung ikut merangsang “pihak2 tertentu” untuk menggelar jamuan2 tdk penting yg melibatkan pemain timnas.
Sekedar saran “media jangan hanya mau mengejar rating saja donk, cerdaskanlah masyarakat jgn buai mereka dengan harapan harapan yg terlalu tinggi.”
4. Masalah Laser
Malaysia curang dan pantas mendapat hukuman, 100% setuju, karena mereka menciderai sportifitas. Namun yg saya dengar dan saya lihat dari teman-teman, banyak mereka yang mengatai Malaysia dengan kata-kata kotor, men-photoshop hal2 yag berbau Malaysia, dan bahkan ada yg terpancing emosi ingin membalas kelakuan supporter Malaysia di GBK. Ayolah Prendz, perlihatkan jika kamu orang yg terpelajar. Instrospeksilah pada diri sendiri pada Bangsa sendiri, apakah Suporter Indonesia Liga Indonesia lebih baek???....bagaimana dengan pelemparan batu / botol / sandal ke tengah lapangan, bagaimana dengan pengeroyokan wasit. Bagaimana dengan pelemparan Bus Tim tamu dengan batu…???.... tidakkah itu menandakan supporter kita lebih parah??
My suggest is "Jangan ciptakan image seolah - olah Malaysia selalu salah & Indonesia selalu benar" THAT'S UNFAIR....

